Studi Mushaf : 1. Mushaf Ali bin Abi Thalib

Posted by By Truth Seekers On 08.30


1.  Setting Historis Ali bin Abi Thalib

       A. Biografi Ali bin Abi Thalib

Beliau adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthhalib bin Hasyim bin Abi Manaf, beliau lahir pada tahun 600/601 M., dari seorang ibu bernama Fatimah binti Asad. Nama kunyah Ali bin Abi Thalib adalah Abu Hasan. Beliau adalah menantu Rasulullah yang menikah dengan puteri beliau, Fatimah.[1]  runtutan nasabnya sebagai berikut :


علي بن أبي طالب بن عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف بن قصي بن كلاب بن مرة بن كعب بن لؤي القرشي الهاشمي. ابن عم رسول الله صلى الله عليه وسلم 
Beliau juga merupakan sepupu Rasulullah Saw., khalifah terakhir dari 4 Khulafaurrasyidin, dan khalifah pertama yang berasal dari kalangan Bani Hasyim. Beliau termasuk orang yang paling awal masuk agama Islam ( as-Sabiqun al-Awwalun). Beliau ikut berhijrah ke Madinah dan turut berpartisipasi dalam peristiwa-peristiwa penting bersama Rasulullah, seperti perang badar, uhud, khandak, perjanjian bai’atur Ridwan, dan peristiwa lainnya selain perang Tabuk. Beliau wafat sebagai syahid pada tahun 40 H, dibunuh oleh dua orang khawarij, Ibnu Muljam dan Syabub bin Bajrah[3]

B.    Sebab Masuk Islamnya Ali bin Abi Thalib
Dalam suatu riwayat dari Ibnu Ishaq diceritakan bahwa suatu ketika, Ali masuk ke rumah Nabi Saw. pada saat Khadijah telah masuk Islam dan ketika itu beliau sedang shalat bersama Rasulullah Saw., Ali bertanya: “Apa ini ? ”, Rasulullah Saw. menjawab: “ ini adalah agama Allah yang Dia pilih untuk dirinya dan karenanya Dia mengutus para rasul-Nya. Oleh karenanya aku menyeru kamu kepada Allah semata ; tiada sekutu baginya dan ingkarilah Lata dan ‘Uzza”.

‘Ali berkata: “ Ini adalah hal yang belum pernah aku dengar sebelumnya hari ini. Aku tidak bisa memutuskan sebelum aku menceritakannya kepada Abu Thalib”. Rasulullah tidak ingin rahasianya terbuka sebelum ada perintah untuk menyebarkan agamanya. Karenanya, beliau berkata kepada Ali: “ Hai Ali, jika kamu belum mau masuk Islam, maka diamlah !”. Maka Ali pun diam pada malam itu, kemudian Allah memberikan petunjuk kepadanya untuk masuk Islam. Keesokan harinya ia menemui Rasulullah dan berkata: “ Apakah yang engkau inginkan dariku wahai Muhammad ?, Rasulullah Saw. berkata: “ engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, engkau mengingkari Lata dan Uzza dan meninggalkan segala bentuk kemusyrikan “. Ali pun melakukannya dan ia masuk Islam. Dalam riwayat lain juga diceritakan bahwa beliau juga merupakan orang kedua yang masuk Islam setelah Khadijah. [4]

C.    Ali bin Abi Thalib dan Penyeragaman Mushaf Al-Qur’an
Ali bin Abi Thalib termasuk diantara penghafal al-Qur’an dan penulis wahyu pada masa Nabi Saw. Beliau juga merupakan salah satu tokoh utama dalam pengadaan mushaf al-Imam, berdasarkan riwayat dari Abu Daud yang menceritakan bahwa ketika Utsman membakar mushaf-mushaf al-Qur’an, Ali berkata: “ Seandainya Utsman tidak melakukanya, maka akulah yang akan melakukannya”.[5]

Empat diantara tujuh qiraat yang termasyhur diriwayatkan tersambung kepada Ali bin Abi Thalib, yaitu:

1.      1. Abu Amr bin al-‘Ala’ dari Nasr bin ‘Ashim dan Yahya bin Ya’mur, mereka berdua belajar qiraat kepada Abu Aswad Ad-Du’ali yang belajar qiraat kepada Ali bin Abi Thalib.
2.      2. ‘Ashim bin Abi an-Nujud dari Abu ‘Abdirrahman as-Salmi yang belajar qiraat secara langsung kepada Ali.
3.      3. Hamzah dari Ja’far as-Shadiq beliau belajar dengan Muhammad al-Baqir, yang belajar kepada Zaynur Abidin, yang belajar kepada al-Husain, yang belajar qiraat kepada Ali.
4.      4. Al-Kisa’i  belajar qiraat kepada Hamzah dengan sanad sebagaimana yang disebutkan di atas.[6]
Imam Ali memiliki sifat yang sangat responsible terhadap kelestarian teks-teks al-Qur’an  sesuai dengan rasm Utsmani, ia mencela orang yang hendak merubahnya. Hal ini sebagaimana diceritakan dalam suatu riwayat dari Ibnu Khalawaih terkait dengan Ali yang membaca   وطلع منضودdengan memakai ع  sebagai pengganti ح  , padahal ketka itu orang-orang membaca    وطلح منضود , Ibnu Khalawaih berkata: Ali membacanya di atas mimbar, lantas ada seseorang berkata: “ Apakah anda tidak merubahnya dalam mushaf ? “, lalu Ali berkata: “ Al-Qur’an itu tidak perlu dirubah “ ( Mukhtashar al-Badi’, 151 ).[7] Berdasarkan beberapa riwayat di atas, dapat kita tarik suatu konklusi, bahwa sejatinya, Ali memberikan dukungan sepenuhnya atas kebijakan khalifah Utsman dalam penyeragaman mushaf.

Dalam riwayat terakhir, point yang perlu kita garis bawahi adalah sikap Ali yang bersi kukuh untuk tidak merubah mushaf al-Imam, meskipun qira’at (cara pembacaan) Ali berbeda dengan apa yang tertera dalam mushaf al-Imam. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa Ali sama sekali tidak menyangkal kebijakan khalifah Utsman dalam penyeragaman mushaf, justru sebaliknya, ia memberikan dukungan terhadap kebijakan tersebut, sebagaimana ditegaskan dalam riwayat pertama.

1.     Kontroversi Seputar Mushaf Ali bin Abi Thalib
A.    Seputar Keberadaan Mushaf Ali bin Abi Thalib
Betapapun posisi penting Ali dalam men-support kebijakan penyeragaman mushaf, namun dalam leksikon historis al-Qur’an, beliau diceritakan telah mempunyai mushaf Al-Qur’an tersendiri, jauh sebelum penyusunan mushaf al-Imam. Tersebut dalam kitab al-Masahif karya Abu Daud :

Abdullah telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Isma’il al-Ahmasy telah menceritakan kepada kami, Ibnu Fudhail telah menceritakan kepada kami,dari Asy’ats dari Muhammad bin Sirrin, ia berkata : “ Ketika Rasulullah Saw. wafat, Ali bersumpah bahwa ia tidak akan pernah memakai selendang ( rida ) selain pada shalat jum’at, sebelum ia menghimpunkan Al-Qur’an dalam satu mushaf, maka beliau pun melakukannya.[8]

Abu Daud berkomentar, bahwa dari keseluruhan redaksi riwayat, hanya Asy’ats yang mengatakan “ dalam suatu mushaf “, perawi lainnya mengatakan “ sehingga aku menghimpunkan Al-Qur’an “, dalam artian hafalan yang sempurna (tamam al-Hifdhzi). Asy’ats sendiri dipandang sebagai seorang yang layyinul hadits. Berdasarkan hasil penelitian Dr. Muhibbudin (pen-tahqiq al-masahif), isnad hadits ini dla’if karena terdapat Asy’ats .[9]
           
           Riwayat lain yang mensinyalir keberadaan mushaf Ali bin Abi Thalib adalah kesaksian Ibnu Nadim: “ Aku telah melihat beberapa selebaran jatuh dari sebuah mushaf yang berada di tangan Abu Ya’la Hamzah al-Husna rahimahullah. Dengan tulisan Ali bin Abi Thalib yang terus diwariskan dari masa ke masa di kalangan keluarga Hasan “. (al-Fahrasat: 48). Secara eksplisit, riwayat ini menegaskan keberadaan material mushaf Ali bin Abi Thalib. Hanya saja beberapa kaum syi’ah tidak memperhatikan hal ini, mereka lebih mewacanakan hal lainnya terkait mushaf al-Qur’an. Mereka tidak banyak berbicara tentang mushaf secara material (yang bisa saja merupakan suatu salinan dari mushaf al-Imam). [10]  

B.     Mushaf Ali bin Abi Thalib Perspektif Syi’ah
            Membincang Ali bin Abi Thalib , tentunya kita tidak bisa melupakan salah satu sekte dalam Islam yang secara mayor berhubungan dengan beliau, yakni kaum syi’ah. Dalam kepercayaan mereka, Ali bin Abi Thalib memiliki Al-Qur’an khusus yang ia kumpulkan sendiri setelah wafatnya Rasulullah, kemudian beliau mempublikasikannya kepada orang-orang, namun mereka berpaling darinya, maka beliau pun tidak memperlihatkannya kepada orang lain. Al-Qur’an itu diwariskan secara turun temurun dari satu imam kepada imam yang lain, sebagaimana kekhususan imamah lainnya. Al-Qur’an tersebut berbeda dengan yang ada sekarang, dalam hal penyusunan, urutan surat, bahkan kata-kata di dalamnya. Urutan al-Qur’an itu berdasarkan urutan  turunnya ayat, ayat Makkiyah diletakkan di depan dan ayat madaniyah di belakangnya. Ayat mansukh didahulukan dari ayat nasikh. ( as-Sabiq : 48 )[11] 

Di samping itu, dalam kepercayaan sebagian kaum syi’ah, dikenal adanya shahifah  al-Jami’ah dan al-Jufr. Hal ini secara eksplisit dijelaskan dalam salah satu suatu riwayat sahih dalam kitab rujukan utama mereka, al-Kafi. Dari Abu Ubaidah, ia berkata:  Sebagian sahabat kita bertanya kepada Abu Abdillah tentang al-Jufr, ia pun menjawab: “ al-Jufr merupakan sebuah kulit sapi jantan yang dipenuhi dengan ilmu “.

Dalam riwayat lainnya dari Abi Bushair disebutkan bahwa: ... “ al-Jami’ah adalah sebuah lembaran dengan panjang 70 dzira’ (sikut) dengan dzira’ Rasulullah Saw. yang ditulis oleh Ali dengan tangan kanannya. Di dalamnya memuat halal-haram dan semua hal yang diperlukan semua manusia ... [12]. Kedua sahifah ini termasuk rahasia golongan syi’ah. Dalam kepercayaan mereka, keduanya terjaga di tangan Imam ke-12 yang gaib, al-Mahdi al-Muntadzhar. Hal ini hanya menyangkut ranah teologis saja, tidak pernah bisa dibuktikan secara historis.

Menanggulangi polemik krusial ini, seorang mujtahid syi’ah kontemporer, as-Sayyid al-Khu’i memberikan beberapa komentar terkait kepercayaan kaum syi’ah bahwa Ali memiliki mushaf tersendiri yang berbeda dengan mushaf yang ada sekarang dan terkait materi mushaf tersebut yang memuat beberapa hal yang tidak tertera dalam mushaf kita sekarang. Ia menegaskan: “ Yang benar adalah bahwa materi-materi tambahan tersebut merupakan sebuah tafsiran saja “ (al-Bayan, Juz.1, hlm. 172-173).[13]

C.    Motif Politis  ( al-Hadf al-Siyasi ) Terkait Mushaf Ali bin Abi Thalib
            Abdus Shabur Syahin menegaskan bahwa dalam wacana seputar Mushaf Ali bin Abi Thalib termuat berbagai motif politis yang cukup berpengaruh dalam menegaskan ke-wilayah-an Ali.[14] Di sanalah tempat kreasi para waddla’ (pemalsu hadits) yang tenggelam dalam fanatisme golongannya. Jika kita telusuri lebih dalam, diantara sekian riwayat yang mereka klaim sebagai “ bagian al-Qur’an yang hilang “, ternyata tidak secara langsung berkaitan dengan riwayat qira’at dari Ali bin Abi Thalib. Tidak ada satu pun dari mereka yang mampu merujuknya secara langsung kepada mushaf Ali. Paling tidak mereka merujuk kepada qira’at Ubay bin Ka’ab dan sesekali kepada qira’at Ibnu Mas’ud.

            Misalnya mereka mengemukakan qira’at Ibnu Mas’ud dalam Surat Al Imran ayat 33 :

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آَدَمَ وَنُوحًا وَآَلَ إِبْرَاهِيمَ وَآَلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

Ibnu Mas’ud membaca :

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آَدَمَ وَنُوحًا وَآَلَ إِبْرَاهِيمَ وَآَلَ مَحَمَّدٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

Surat Al-Ahzab ayat 25 :
وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا

Ibnu Mas’ud membaca :
وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ بِعَلِيٍّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا

Dan masih banyak riwayat qira’at syadz lainnya yang hanya bisa dimiliki oleh para pemalsu hadits.

                
2.      Studi Mushaf Ali bin Abi Thalib
A.    Polemik “ Dua Surat Yang Hilang
Membincang mushaf Ali bin Abi Thalib, ada suatu hal yang menarik untuk diurai dan diuji validitas kebenarannya, yaitu sekitar wacana “ bagian al-Qur’an yang hilang”. Wacana krusial semacam ini dipropagandakan oleh kaum syi’ah. Mereka menyebutkan dua buah surat Al-Qur’an yang “ hilang “ dari Al-Qur’an sekarang, yaitu Surat an-Nuraini   (اَلنُّوْرَيْنِ )  yang berjumlah 42 ayat dan Surat al-Wilayah yang berjumlah 7 ayat.[15]

Teks lengkap surat an-Nuraini ini bisa dilihat dalam kitab as-Sabiq karya al-Tharabasy. Disamping itu, seorang orientalis yang bernama Garcin de Tassy juga pernah menyajikan keseluruhana teks surat ini dalam kompilasi 13 Jurnal Asiatique, yang terbit pada bulan januari tahun 1842, halaman 433-436. Tidak ada satu potongan ayat pun dari surat tersebut yang sama dengan Al-Qur’an kita sekarang, selain potongan ayat-ayat al-Fawashil, seperti  سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ   dan   عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ .

Di bawah ini adalah sebagian potongan ayat Surat an-Nuraini ( اَلنُّوْرَيْنِ ) :

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آ مَنُوْا آمِنُوْا بِالنُّوْرَيْنِ أَنْزَلْنَاهُمَا يَتْلُوَانِ غَلَيْكُمْ ايَاتِيْ , وَيُحَذِّرَانِكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ . نُوْرَانِ بَعْضُهُمَا مِنْ بَعْضٍ وَاِنَّا لَسَمِيْعٌ بَصِيْرٌ . اِنَّ الَّذِيْنَ يُوْفُوْنَ بِعَهْدِاللهِ وَرَسُوْلِهِ فِىْ ايَاتٍ لَهُمْ جَنَاتُ نَعِيْمٍ .[16]   
     Artinya: Hai orang-orang yang beriman, berimanlah kamu kepada dua cahaya yang telah kami turunkan, yang membacakan kepadamu ayat-ayat kami (1). Dan (kedua cahaya itu) akan memberi peringatan kepadamu tentang siksa di hari yang agung (2). Kedua cahaya itu, sebagiannya merupakan bagian dari yang lainnya, dan sesungguhnya kami maha mendengar dan maha melihat (3). Sesungguhnya orang-orang yang memenuhi perjanjian Allah dan rasul-Nya dalam beberapa ayat-ayat (tanda kekuasaan), maka bagi mereka surga yang penuh kenikmatan (4).

B.      Analisis Isi Mushaf / Qira’at Ali bin Abi Thalib
Jika kita memang konsisten terhadap konklusi kita di muka, maka satu-satunya mushaf yang “ diridhai “ oleh Ali adalah mushaf al-Imam itu sendiri, yang mana jika Utsman tidak melakukan penyeragaman mushaf itu, maka ialah yang akan melakukanya sendiri. Hanya saja kita mendapati beberapa riwayat yang berkaitan dengan qira’at (cara pembacaan) Ali bin Abi Thalib yang memang berlainan dengan apa yang tertulis di mushaf al-Imam. Secara global, riwayat-riwayat tersebut terbagi menjadi dua kategori utama :

1.      Qira’at Lahjiyyah (dialektis)
2.      Qira’at Tafsiriyah (interpretatif)
Qira’at lahjiyyah dalam artian cara pembacaan Ali bin Abi Thalib terhadap ayat al-Qur’an yang berbeda denga apa yang tertera dalam mushaf al-Imam disebabkan faktor dialektis ( Lahjah ). Adapun qira’at tafsiriyah merupakan cara pembacaan Ali bin Abi Thalib terhadap ayat al-Qur’an dengan menyisipkan interpretasinya sendiri di sela-sela ayat, atau mengganti suatu kata dalam ayat dengan kata lain yang ia pilih sebagai sebuah bentuk penafsiran terhadap ayat tersebut.

a.       Beberapa Sampel Qira’at Lahjiyyah ( Dialektis ) Ali Bin Abi Thalib.[17]  
No
Nama Surat
Mushaf Utsmani
Qira’at Ali
1.
Al-Fatihah : 5
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
اَياَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
2.
Al-Baqarah : 168
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُؤَاتِ الشَّيْطَانِ
3.
Al-Baqarah : 185
فَلْيَصُمْهُ
فَلِيَصُمْهُ
4.
Al-Baqarah : 237
فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ
فَنُصْفُ مَا فَرَضْتُمْ
5.
Hud : 17
فَلَا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ
فَلَا تَكُ فِي مُرْيَةٍ مِنْهُ
6.
Al-Waqi’ah : 29
وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ
وَطَلْعٍ مَنْضُودٍ
7.
Yusuf : 4
إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا
إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عْشَرَ كَوْكَبًا
8.
An-Naba : 28
وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا كِذَّابًا
وَكَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا كِذَابًا
9.
Ar-Rahman : 56
لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ
لَمْ يَطْمُثْهُنَّ إِنْسٌ
10.
Ali Imran : 146
قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ
قَاتَلَ مَعَهُ رُبِّيُّونَ كَثِيرٌ
11.
Al-Fatihah : 5
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
إِيَّاكَ نَعْبُدُو وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

            Berdasarkan beberapa sampel di atas, kita menemukan sekian ragam qira’at aneh yang berbeda dengan apa yang tertera dalam mushaf al-Imam. Misalnya saja dalam riwayat no. 4,5 dan 10, dalam qira’ah kita yang menggunakan dialek Quraisy, huruf-huruf tersebut dibaca kasrah, namun dalam qira’at Ali dibaca dlammah, sedangkan Ali sendiri merupakan Imam kaum Quraisy dari kalangan bani Muthhalib ( al-Imam al-Quraisy al-Muthhaliby).

           Abdus Shabur Syahin dalam mengomentari riwayat-riwayat qira’at Ali yang membaca dlammah dalam huruf yang dibaca kasrah dalam mushaf al-Imam menegaskan bahwa hal ini tidak diragukan lagi merujuk kepada qira’ah Tamim ( dalam arti makro ).[18] Perlu diperhatikan bahwa salah satu orientasi utama yang digunakan dalam studi linguistik kontemporer, adalah kecenderungan qira’at orang Arab Badui (kampung/pedalaman) kepada syakal dlammah, dan kecenderungan qira’at orang Arab al-Hadlar (yang telah berbudaya tinggi) kepada syakal kasrah.

Penduduk tamim tersebut tinggal di daerah badui / perkampungan (sehingga mereka bertendensi pada qira’at dlammah). Adapun suku Quraisy, Hudzail, Anshar dan Tsaqif dan suku-suku lainnya dari jazirah Arab bagian timur menetap di wilayah al-Hadlar (sehingga bertendensi pada qira’at kasrah).

Adapun kemusykilan mengenai percampuran antara kedua ragam kecenderungan ini, al-Ustadz Dr. Ibrahim Anis menegaskan bahwa secara global, qira’at kabilah-kabilah di daerah perkampungan Jazirah Arab cenderung kepada dlammah. Hal ini disebabkan karena ia merupakan salah satu karakter dialektis yang keras dari penduduk Arab kampung. Ketika kita mendapati penduduk Arab kota cenderung kepada kasrah, maka penduduk Arab kampung cenderung kepada dlammah. Keduanya jika ditinjau dari ranah fonologis adalah tidak jauh berbeda, oleh sebab itu terkadang terjadi percampuran di antara keduanya.[19]

Secara konklusif, dapat kita tarik benang merah bahwa corak qira’at Ali lebih cenderung kepada qira’at badawiyyah. Hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa corak qira’atnya yang tendensius kepada tradisi dialektis penduduk Arab kampung. Sebut saja riwayat no. 4,5,9 dan 10 yang secara kontras terlihat dalam kecendrungannya kepada syakal dlammah, lalu riwayat no. 11 yang meng-Isyba’-kan huruf dal sehingga seolah-olah terdapat wau setelahnya.

Selain itu dalam riwayat no. 6 kita juga bisa melihat tradisi dialektis Arab badawi, yakni menggantikan huruf   ع kepada     حyang dikenal dengan fahfahah. Tradisi lainnya bisa kita lihat pada riwayat no. 7, yakni mematikan huruf berharkat yang berada di tengah-tengah, seperti  كُتْبٌ   menjadi   كُتُبٌ.

b.   Beberapa Sampel Qira’at Tafsiriyah  (Interpretatif ) Ali bin Abi Thalib.[20]
   No
Nama Surat
Mushaf Utsmani
Qira’at Ali
1.
Al-Baqarah : 182
فَمَنْ خَافَ مِنْ مُوصٍ جَنَفًا
فَمَنْ خَافَ مِنْ مُوصٍ حَيَفًا
2.
An-Nisa : 46
يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ
يُحَرِّفُونَ الْكَلاَمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ
3.
An-Nisa : 172
أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ
أَنْ يَكُونَ عَبَيْدًا لِلَّهِ
4.
Al-An’am : 141
وَآَتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ
وَآَتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَدِهِ
5.
Ar-Ra’du : 31
أَفَلَمْ يَيْئَسِ الَّذِينَ آَمَنُو
أَفَلَمْ يَتَبَيَّنِ الَّذِينَ آَمَنُو
6.
Yusuf : 30
قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا
قَدْ شَفَعَهَا حُبًّا

            Secara keseluruhan tidak sedikitpun kita temui sedikitpun tambahan teks dalam qira’at Ali ini, berbeda dengan qira’at Ibnu Mas’ud dan Ubay bin Ka’ab yang dalam beberapa riwayat terdapat teks tambahan di luar apa yang tertera dalam mushaf al-Imam.

To Be Continued ..... to Studi Mushaf 2

End Note :


[1] Muhammad Ridha, Muhammad Shallalahu ‘Alayhi Wasallam, terj. H. Anshori Umar, (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2010), hlm. 172
[2]  Ibnu al-Atsir, Usudul Ghabah, Juz. 2, hlm. 289, CD Maktabah Syamilah
[3]  Usudul Ghabah, Juz. 2, hlm. 289
[4] Ibnu al-Atsir, Usudul Ghabah, Juz. 2, hlm. 290
[5] Abu Daud al-Sijistani, al-Masahif, (Beirut: Darul Basyair al-Islamiyah, 2002), hlm. 177
[6] Abdus Shabur Syahin, Tarikh al-Qur’an, (Kairo: Darul Qalam, 1966), hlm. 163
[7]  Tarikhul Qur’an, hlm. 165
[8] Al-Masahif, hlm. 168
[9]    Al-Masahif, hlm. 169
[10]  Tarikhul Qur’an, hlm. 168
[11]  Tarikhul Qur’an , hlm. 167
[12]  Tarikhul Qur’an, hlm. 166
[13] Tarikhul Qur’an, hlm. 171
[14] Tarikhul Qur’an, hlm. 170
[15] Tarikhul Qur’an, hlm. 172
[16] Tarikhul Qur’an, hlm. 173
[17] Untuk sumber referensi lebih lanjut dan beberapa keterangan penting lainnya, lihat Tarikh al-Qur’an, hlm. 175-178
[18] Pengertian tamim di sini tidak merujuk kepada suatu kabilah tertentu, ia merupakan suatu term yang digunakan para ahli linguistik yang merujuk kepada sejumlah penduduk Jazirah Arab bagian tengah dan timur. Lihat  Tarikhul Qur’an, hlm. 177
[19] Tarikh al-Qur’an, 177
[20] Sumber referensi riwayat, lihat Tarikhul Qur’an, hlm. 180-181

0 comments

Posting Komentar